KOSMOLOGI BUDDHA

AGAMA BUDDHA DAN KOSMOLOGI
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin canggih memberi kesempatan pada manusia untuk mengetahui lebih banyak tentang kosmos (alam semesta). Dengan teropong, manusia dapat melihat bintang-bintang dengan lebih jelas. Para astronot telah dapat menginjakkan kakinya di bulan. Bahkan, bepergian keluar angkasa telah menjadi semacam acara rekreasi bagi sebagian orang.

Umat Buddha, sebagai bagian dari penduduk dunia, turut menikmati kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun tidak banyak umat Buddha yang tahu bahwa Sang Buddha telah lebih dulu mengajarkan pengetahuan tentang alam semesta itu tanpa menggunakan alat-alat canggih seperti sekarang. Dengan kemampuan batinnya, Sang Buddha dapat mengetahui dengan jelas tentang keberadaan alam semesta.

Keberhasilan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak negatif terhadap kehidupan spiritual manusia. Banyak manusia yang semakin serakah dan mengembangkan nafsu keinginannya yang tidak terpuaskan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini tentu saja tidak selaras dengan ajaran agama Buddha yang bertujuan mencapai pembebasan.

A. Kajian Sutta
Lebih dari 2500 tahun yang lalu, dengan kemampuan batinnya yang luar biasa, Sang Buddha telah menjelaskan tentang keberadaan alam semesta ini dalam beberapa kotbahnya. Sesuai dengan ajaran Sang Buddha tentang tiga corak umum (Tilakkhana), dijelaskan bahwa alam semesta ini adalah selalu berproses dan tanpa inti yang kekal. “Sang Tathagata mengingat banyak kehidupan-Nya yang lampau (Pubbenivasanussatinana) yakni satu kelahiran, dua, ….seratus, seribu, seratus ribu kelahiran, banyak kappa kehancuran alam semesta (Samvattakappa) dan banyak kappa pembentukan alam semesta (Vivattakappa)…”(M.I.1: 12, D.III.27)

Bumi yang kita diami adalah bagian dari alam semesta. Di alam semesta terdiri dari banyak tata surya. Tata surya adalah sebutan untuk satu sistem dunia atau galaksi. Dalam Abhibhu Sutta (A.III) dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa:
Sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu gunung Sineru , seribu Jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavideha, empat ribu maha samudra, empat ribu maha raja, seribu Catummaharajika, seribu Tavatimsa, seribu Yama, seribu Tusita, seribu Nimmanarati, seribu Parinimmitavassavatti, dan seribu alam Brahma. Inilah, Ananda, yang dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika lokadhatu) (A.III).

Seribu tata surya kecil itu disebut Sistem Dunia Minor (Minor World System) yang dalam konsep modern disebut sebagai Galaxy Tunggal. Bumi yang kita huni ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bumi yang ada di alam semesta ini. Bila bumi kita hancur maka masih banyak bumi yang lain yang akan menjadi tempat tumimbal lahir makhluk-makhluk. Kehancuran dunia menurut agama Buddha adalah kehancuran satu sistem tata surya.

Waktu terjadinya kehancuran bumi tidak dikatakan secara jelas, tetapi berdasarkan Cakkavattisihanada Sutta yang menjelaskan bahwa: usia manusia sekarang ini sedang menurun menjadi pendek. Pada suatu waktu usia manusia hanya rata-rata 10 tahun, usia 10 tahun ini akan berlangsung lama, kemudian usia manusia bertambah panjang hingga pada suatu saat panjang usia manusia mencapai rata-rata 80.000 tahun, pada masa itu Buddha Metteya muncul di dunia (di bumi kita) (D. III, 27). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kehidupan bumi ini masih akan berlangsung lama hingga Buddha Metteya muncul dan setelah itu barulah kehancuran bumi terjadi. Dengan kata lain kehancuran bumi baru akan terjadi pada masa yang masih sangat lama sekali.

Kehancuran bumi pasti akan terjadi. Apabila manusia menganggap bumi ini kekal maka ia dikatakan menganut pandangan salah (D.I,1).Kehancuran bumi bukan akhir segala-galanya. Setelah bumi hancur akan terbentuk bumi baru. Proses pembentukan bumi baru ini dijelaskan oleh Sang Buddha dalam beberapa kotbahnya. Menurut Mahaparinibbana Sutta, bumi terbentuk dari zat cair. “Bumi yang luas terbentuk dari zat cair, zat cair terbentuk dari udara di angkasa” (D.II.16).

Menurut Agganna Sutta, proses pembentukan bumi adalah berhubungan dengan asal usul manusia.
…terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilamana hal itu terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara….Terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. Dan ketika hal ini terjadi, makhluk-makhluk yang mati di Abhassara, biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia….Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan…Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak…sejauh itu bumi terbentuk kembali (D.III.27).

Konsepsi Buddhis tentang alam semesta ini sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Artinya, kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha telah dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi manusia.

B. Refleksi Kritis

Berdasarkan kajian terhadap sutta-sutta tentang kosmos (alam semesta), dapat diambil suatu refleksi kritis, yaitu: pengetahuan tentang alam semesta bukanlah tujuan akhir dari pelaksanaan ajaran Sang Buddha. Tujuan utama dari pembelajaran tentang alam semesta tersebut ialah agar manusia menyadari tentang konsep Anicca dan Anatta.

Alam semesta beserta seluruh penghuninya adalah dicengkram hukum ketidakkekalan, semuanya selalu berproses dan berubah. Selain itu, segala sesuatu adalah kosong, tanpa inti yang kekal. Alam semesta ini adalah perpaduan dari berbagai unsur. Demikian juga dengan manusia, merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang bersifat tidak kekal dan tanpa inti yang kekal. Manusia hendaknya tidak melekat pada konsep-konsep dan perwujudan fisik di alam semesta ini. Segala sesuatu yang tidak kekal dan tanpa inti apabila dilekati akan menimbulkan ketidakpuasan (dukkha). Dukkha inilah yang harus disadari dan dihapuskan dari kehidupan manusia. Peninggalan terhadap kemelekatan-kemelekatan terhadap segala sesuatu yang tidak kekal dan tanpa inti membawa manusia pada pencapaian tertinggi, yaitu Nibbana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: