KETUHANAN DALAM AJARAN BUDDHA

KETUHANAN DALAM AJARAN BUDDHA

Yang Tak Terkondisi Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna, dengan demikian Buddha menghayati dan memahami Ketuhanan dengan sempurna pula. Buddha bersabda bahwa ada Yang Tidak Terlahir, Yang Tidak Terjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak (Udana VIII:3). Yang Mutlak itu Esa adanya, disebut Asamkhata-Dharma, Dharma Yang Absolut, Yang Tak Terkondisi. Dengan adanya Yang Mutlak, Yang Tak Terkondisi, maka manusia yang terkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan mutlak dari lingkaran kehidupan–kematian (samsara). Ketuhanan Yang Maha Esa dapat dihayati melalui hukum-hukum Dharma yang berlaku di alam semesta. Hal ini ibarat udara. Apakah udara itu ada? Ya, tentu saja. Akan tetapi, mana udara itu? Bisakah dipegang? Bisakah dilihat? Bisakah didengar? Tentu saja tidak. Walau demikian, kita bisa memastikan bahwa udara itu ada dari gejala-gejalanya, seperti nyiur yang melambai, asap yang bergerak, debu yang beterbangan, dan lain-lain. Dengan adanya hukum-hukum Dharma, unsur imanen dari Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lenyap sama sekali, namun ajaran Buddha menekankan unsur transenden dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua yang bersifat transenden adalah tidak terkonsepkan. Mereka harus dipahami secara langsung (intuitif) melalui pencerahan, bukan melalui konsep. Akan tetapi, hal itu sulit dilakukan. Karena kesulitan itu, ada yang berusaha memahami dengan pendekatan konseptual. Tidak terelakkan, ketika manusia berbicara mengenai konsep Ketuhanan, diperlukanlah nama. Salah satu nama yang digunakan dalam ajaran Buddha adalah “Adi-Buddha”. Dalam kitab-kitab Buddhis berbahasa Kawi (Jawa Kuno), nama-nama lain dari Adi-Buddha adalah Advaya, Diwarupa, dan Mahavairocana. Sebutan lain Adi-Buddha adalah Vajradhara (Tibet–Kargyu dan Gelug), Samantabhadra (Tibet–Nyingma), dan Adinatha (Nepal). Adi-Buddha merupakan Realitas Absolut atau Kebenaran Mutlak, bukan suatu personifikasi. Adi-Buddha tak lain adalah Dhammakaya, Tubuh Dharma Yang Absolut. Dhammakaya bersifat kekal, meliputi segalanya, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ada dengan sendirinya, bebas dari pasangan yang berlawanan, bebas dari pertalian sebab–akibat. Konsep Ketuhanan menurut ajaran Buddha ini perlu dipahami dengan benar, mengingat masih banyak yang mencampuradukkan dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain. Asal Alam Semesta Semua agama mempunyai dongeng dan sejarah yang berupaya menjawab pertanyaan ini. Pada zaman dahulu, ketika pikiran manusia masih sederhana, dongeng-dongeng sudah mencukupi. Namun pada abad milenium ini, era fisika, astronomi, dan geologi modern berangsur-angsur telah menggantikan dongeng-dongeng tersebut dengan fakta-fakta ilmiah. Sungguh menarik bahwa penjelasan Buddha mengenai asal mula alam semesta ternyata sangat sesuai dengan pandangan ilmu pengetahuan. Dalam Aganna Sutta, Buddha menggambarkan alam semesta berulang kali mengalami kehancuran dan tersusun kembali seperti saat ini selama masa yang tak terhitung lamanya. Bumi ini bukanlah satu-satunya planet, masih ada gugus-gugus yang lebih besar, tata surya, galaksi, mahagalaksi, dan seterusnya, tanpa batas. Kehidupan pertama terbentuk di atas permukaan cairan, dan berangsur-angsur berevolusi dari organisme yang sederhana menjadi semakin kompleks. Segala proses ini tidak berawal, tidak berakhir, dan berlangsung secara alamiah. Keyakinan Umat Buddha Pengikut Buddha yakin bahwa setiap makhluk hidup adalah bernilai dan penting, setiap makhluk memiliki potensi untuk mencapai ke-Buddha-an—tingkat kesempurnaan suatu makhluk. Pengikut Buddha yakin bahwa setiap orang akan mampu mengatasi kegelapan batin, serta melihat segala sesuatu sebagaimana adanya; kebencian, keserakahan, dan kejahatan dapat digantikan oleh cinta kasih, kemurahan hati, dan kebajikan. Semua ini ada dalam jangkauan setiap orang jika kita mau berusaha, mengendalikan diri, bersemangat, dan meneladani jejak Buddha. Seperti yang dikatakan-Nya dalam Dhammapada 165: Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung diri sendiri, tak seorang pun dapat menyucikan orang lain. Kita sendirilah yang harus menjalaninya, para Buddha hanyalah penunjuk jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: