CERITA-CERITA SINGKAT UNTUK ANAK SEKOLAH MINGGU

AJATASATTU, MUSUH YANG BELUM LAHIR

Suatu ketika, Devadatta berselisih paham dengan sang Buddha. Devadatta akhirnya memisahkan diri dari sangha. Devadatta bermaksud mencari dukungan dari pihak kerajaan. Ia berpikir mungkin Pangeran Ajatasattu, anak dari Raja Bimbisara, bisa memberikan dukungan padanya. Devadatta lalu datang kepada pangeran Ajatasattu dan mempertunjukkan kemampuan gaibnya, untuk membuat Pangeran Ajatasattu takjub. Pangeran Ajatasattu yang merasa kagum pada Devadatta akhirnya menjadi mudah untuk dipengaruhi oleh Devadatta. Devadatta menghasut Pangeran Ajatasattu untuk mengambil alih tahta kerajaan dan membunuh ayahnya. Mendengar hasutan itu, pangeran Ajatasattu terpengaruh, dan akhirnya merencanakan untuk mengambil alih tahta kerajaan dari Ayahnya.
Ketika Raja Bimbisara mengetahui rencana anaknya, Ia bukannya justru menghukum anaknya. Malahan Raja Bimbisara menyerahkan tahta kerajaan kepada Ajatasattu seperti yang diinginkan anaknya itu. Mendapat tahta dari ayahnya bukannya membuat Ajatasattu merasa puas, Ia justru menangkap ayahnya dan memasukkannya ke dalam penjara. Diperintahkannya pada para pengawal supaya ayahnya tidak diberi makan. Ajatasattu ingin ayahnya menderita sampai mati. Sedangkan yang diijinkan untuk mengunjungi Raja Bimbisara hanyalah Ibunya. Orang lain sama sekali tidak boleh datang.
Ibunya merasa kasihan melihat suaminya, Raja Bimbisara, menderita kelaparan di penjara. Akhirnya setiap kali ia berkunjung, Ratu selalu menyembunyikan makanan untuk suaminya di balik baju. Sehingga Raja Bimbisara tetap bisa makan dan tidak kelaparan. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Ajatasattu mengetahui tindakan ibunya. Setelah itu, Ajatasattu melarang ibunya untuk datang mengunjungi Raja Bimbisara. Ratu sangat bersedih melihat kekejaman anaknya terhadap ayahnya sendiri.
Bimbisara yang kini sudah tidak lagi mendapatkan makanan untuk bertahan hidup, kemudian berlatih meditasi. Setiap hari ia selalu mengingat ajaran Sang Buddha dan berlatih meditasi. Kedua hal itu menjadi satu-satunya sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi dirinya. Akhirnya, Bimbisara mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna). Batinnya menjadi tenang dan bahagia.
Ajatasattu merasa heran. Ia bingung mengapa ayahnya belum mati juga, padahal sudah lama sekali ayahnya tidak makan. Suatu ketika, Ajatasattu mengetahui bahwa ayahnya berlatih meditasi jalan. Ia lalu mengirimkan seorang tukang cukur untuk menyayat-nyayat telapak kaki ayahnya, dan melumurinya dengan garam, agar ayahnya semakin menderita.
Bimbisara yang melihat kedatangan tukang cukur merasa sangat senang. Ia berpikir bahwa anaknya mungkin sudah sadar, dan menyesali perbuatannya. Sehingga anaknya tersebut lalu mengirimkan tukang cukur untuk memangkas rambut dan jenggotnya yang sudah panjang sebelum membebaskannya. Tetapi harapan Bimbisara keliru. Ia harus mengalami penderitaan yang luar biasa. Kakinya disayat-sayat, dan dilumuri garam. Bimbisara sangat menderita. Karena kondisi tubuhnya yang sudah lemah akibat kurang makan, dan tidak tahan dengan penderitaan itu, akhirnya Bimbisara meninggal dunia.
Pada hari itu juga, anak Raja Ajatasattu lahir. Ajatasattu merasa sangat berbahagia melihat anaknya yang baru saja lahir tersebut. Ia merasakan cinta dan kasih sayang yang luar biasa kepada anaknya itu. Seketika itu pula ia teringat kepada ayahnya sendiri. Ia merasa sangat bersalah. Dengan tergesa-gesa ia memerintahkan kepada pengawalnya untuk segera pergi ke penjara dan membebaskan ayahnya. Namun terlambat. Ayahnya telah meninggal dunia. Raja Ajatasattu sangat sedih. Ia amat menyesali perbuatannya. Ditengah kesedihannya, ia bertanya pada ibunya.
“Ibu, apakah ayah dulu menyayangiku ketika aku masih kecil?”
Ibunya lalu menjawab “Nak, ayahmu sangat menyayangimu. Bahkan ketika engkau belum lahir pun ia sudah amat menyayangimu” Lalu ibunya bercerita bahwa sesungguhnya, dulu ketika Ratu masih mengandung Ajatasattu, seorang peramal pernah datang dan meramalkan, bahwa anak yang dikandungnya itu kelak akan menjadi musuh ayahnya. Mendengar ramalan itu, Ratu ingin menggugurkan kandungannya, tetapi Raja melarangnya. Ketika anak itu lahir, Raja memberinya nama Ajatasattu, yang artinya “Musuh yang belum lahir” Saat Ajatasattu masih kecil, pernah suatu ketika ia menderita sakit bisul yang cukup parah di jarinya. Waktu itu Ajatasattu kecil terus menangis karena kesakitan, dan tak ada seorangpun yang dapat mendiamkannya. Raja Bimbisara yang saat itu sedang memimpin rapat akhirnya menunda rapatnya, kemudian ia menggendong Ajatasattu. Tanpa ragu-ragu ia lalu menghisap jari Ajatasattu yang sakit itu dengan mulutnya. Bisul itu lalu pecah, dan Raja pun lalu menelan nanah yang keluar bersama darah dari bisul tersebut. Setelah itu Ajatasattu kecil berhenti menangis. Mendengar cerita dari ibunya mengenai bagaimana ayahnya sangat menyayangi dirinya, Ajatasattu merasa sangat menyesal atas kekejaman yang telah dilakukannya kepada ayahnya.

KISA GOTAMI THERI

Kisa Gotami adalah seorang gadis dari keluarga miskin di kota Savatthi.Setiap orang yang melihat Kisa Gotami berjalan dengan badannya yang tinggi dan kurus, tetapi tak seorangpun dapat melihat kebaikan yang ada dalam dirinya.
Namun secara tak sengaja kebaikan Kisa Gotami terlihat oleh seorang pedagang kaya yang menganggap kebaikan tidak dapat dilihat dari penampilan luar saja. Pedagang kaya itu pun akhirnya menikahi Kisa Gotami. Tetapi, keluarga suaminya memandang rendah dirinya karena kasta, kemiskinan dan penampilan dirinya sehingga hal itu membuat Kisa Gotami sangat menderita. Terutama karena suami tercinta harus harus manghadapi masalah antara orang tua dan istrinya. Waktu terus berlalu, akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari pernikahan itu. Kisa Gotami mulai diterima oleh keluarga suaminya dan dia sangat bahagia. Tetapi kebahagiaan itu tek berlangsung lama karena anaknya meninggal dunia. Kematian anaknya membuat Kisa Gotami sangat sedih dan takut. Takut karena orang tua suaminya akan memandang rendah dan menyalahkan dirinya atas kematian anaknya. Kejadian itu membuat Kisa Gotami gila. Dia menganggap anaknya tidak meninggal melainkan sakit dan harus mendapatkan obat untuk menyembuhkan. Dengan mengendong anaknya kian kemari, Kisa Gotami sambil meminta obat dari rumah ke rumah. Sampai disuatu rumah, ada seorang yang baik hati dan bijaksana yang berkata kepada Kisa Gotami untuk menemui Sang Buddha, karena Beliau mempunyai obat yang dia butuhkan. Maka bergegaslah Kisa Gotami menemui Sang Buddha untuk meminta obat yang dapat menyembuhkan anaknya yang sakit.
Lalu Sang Buddha berkata kepada Kisa Gotami untuk meminta segengam biji lada dari rumah dimana belum pernah mengalami kematian. Dengan membawa anaknya yang telah meninggal Kisa Gotami pergi dari rumah ke rumah untuk meminta segengam biji lada. Setiap rumah yang didatangi memiliki biji lada tetapi pada saat Kisa Gotami bertanya apakah di rumah ini tidak pernah mengalami kematian maka jawannya selalu sama yaitu tentu saja pernah mengalami kematian. Kisa Gotami tidak pernah menemukan sebuah rumah dimana keluarga tidak pernah ada yang meninggal.
Hal itu membuat Kisa Gotami sadar bahwa pada setiap kelahiran pasti ada kematian. Bukan hanya dia saja yang terpukul karena kematian dari orang yang disayangi. Tak lama setelah itu, Kisa Gotami menguburkan anaknya dan pergi menemui Buddha.
Kisa Gotami kemudian berkata bahwa dia tidak dapat mendapat segengam biji lada dari rumah yang keluarganya belum pernah meninggal dan dia telah menyadari akan ketidak kekalan dan memohon untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhuni.

CINCAMANAVIKA, SI PEMFITNAH

Sejak Sang Buddha membabarkan dhamma tanpa membedakan kasta, warna kulit, ras ataupun jenis kelamin, jumlah siswa-Nya makin bertambah pesat mulai dari raja, pangeran, ratu, brahmin, saudagar, petani, ibu rumah tangga, pelayan dan penghibur. Kemana pun Beliau pergi membabarkan dhamma pengikutnya semakin banyak sehingga keadaan ini menimbulkan rasa benci dan iri hati dalam hati para pertapa pengelana. Dengan berbagai cara mereka membujuk orang-orang utntuk memberikan mereka persembahan tetapi tidak pernah berhasil, sehingga mereka diam-diam berkumpul dan berencana untuk merusak nama baik Sang Buddha.
Pada saat itu hiduplah seorang pertapa pengelana wanita yang sangat cantik dan anggun bernama Cincamanavika. Dalam perundingannya, para pertapa pengelana menyusun rencana untuk memanfaatkan Cincamanavika untuk rencana mereka.
Oleh sebab itu, segeralah dipanggil Cinca untuk datang menghadap. Kemudian mereka bercerita kepada Cinca bahwa Sang Buddha telah merebut ketenaran, kehormatan dan persembahan dari mereka dan meminta bantuan Cinca untuk mempermalukan Sang Buddha di depan umum. Segeralah Cinca setuju dan mulai menjalankan rencananya. Ia tahu bahwa setiap senja orang-orang akan pulang dari vihara Jetavana setelah mendengar kotbah dhamma dari Sang Buddha. Maka dia akan berdadan dengan cantik sehingga menarik perhatian orang banyak dan berjalan pergi ke arah vihara Jetavana. Keesokan paginya ia akan kembali ke kota seakan-akan kemarin bermalam di vihara Jetavana. Hal ini dilakukan selama satu setengah bulan. Setelah itu, dia mengubah siasat dengan berkata bahwa dia bermalam dengan Sang Buddha di Vihara Jetavana. Mendengar hal itu orang-orang mulai curiga dan bertanya-tanya apakah yang dikatakannya itu benar. Tiga atau empat bulan kemudian, ia berpura-pura hamil dengan mengikat kain ke perutnya dan bercerita bahwa dia telah mengandung anak dari Sang Buddha.
Pada suatu ketika Sang Buddha sedang membabarkan dhamma dihadapan banyak orang Cinca muncul didepan Sang Buddha dan mencercanya dengan tuduhan palsu bahwa dia telah mengandung anak dari Sang Buddha. Kemudia Sang Buddha menghentikan kotbahnya dan berkata kepada Cinca bahwa hanya mereka yang tahu bahwa apa yang dikatakan Cinca adalah betul atau tidak. Pada saat itu Dewa Sakkah manjadi panas dan menyadari bahwa Cinca sedang memfitnah Sang Buddha, sehingga mengubah dirinya menjadi seekor tikus dan mengigit tali yang mengikat kayu yang diikat di perut Cinca. Setelah tali putus, maka jatuhlah kayu itu pada kaki dan menyebabkan luka pada kaki Cinca. Orang-orang manjadi sadar akan tipu dayanya. Mereka marah dan menghina serta mengusir Cinca dari halaman vihara. Ia berlari cepat mungkin, namun ditempat yang tak terlihat bumi menganga retak, lalu api neraka menelan dirinya ke dasar neraka Avici.

SOPAKA, Orang Suci Termuda|

Dalam perjalanan hidupnya, Buddha banyak mengajari dan menolong para makhluk. Berikut ini adalah beberapa kisah perjalananNya dalam membabarkan Dharma. Dahulu kala pada jaman Buddha hiduplah seorang anak bernama Sopaka yang ketika berumur 4 bulan ditinggal mati oleh ayahnya. Sopaka lalu dibesarkan oleh ibu dan pamannya. Ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi Sopaka. Paman Sopaka sangat tidak senang dengan kehadiran Sopaka sehingga Sopaka sering dimarahi dan dipukuli oleh pamannya. Suatu hari, pamannya ingin membuang Sopaka karena pamannya berpikir Sopaka hanyalah anak kecil tak berguna yang sangat merepotkan. Sopaka diajak berjalan-jalan pamannya lalu di dibawa ke pekuburan. Di pekuburan tersebut pamannya mengikat tubuh Sopaka pada mayat dan Sopaka ditinggal disana. Sopaka yang pada waktu itu berusia 7 tahun sangat ketakutan, tetapi tidak dapat melakukan apa-apa dengan tubuh yang diikat. Meskipun Sopaka telah berteriak sekuat tenanga tetapi hal itu tentu saja tidak mendatangkan manfaat karena pekuburan tersebut jauh dari rumah penduduk. Ketika malam tiba, tempat itu menjadi sangat gelap, bau mayat menusuk hidung, dan hewan-hewan liar semakin mendekat kearah Sopaka. Dengan ketakutan yang luar biasa Sopaka akhirnya merasa putus asa. Ketika Sopaka putus asa, dengan kekuatan batinnya Buddha mengetahui bahwa Sopaka sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya Buddha muncul menolong Sopaka dan membawa Sopaka ke wihara. Sopaka kemudian ditahbiskan menjadi samanera dan menjadi murid Buddha. Meskipun Sopaka masih berusia 7 tahun tetapi Sopaka sangat tekun dan rajin belajar Dhamma. Akhirnya Sopaka mencapai kesucian tertinggi pada usia 7 tahun.

Bagian 9 : Parinibbana

Setelah selama 45 tahun Buddha membabarkan dhamma dengan penuh cinta kasih kepada semua mahluk, pada usia ke 80 tahun Buddha memberitahu para siswanya bahwa Ia akan wafat atau Parinnibbana 3 bulan lagi. Tiga bulan kemudian Buddha menerima dana makanan terakhir dari Cunda yang berupa sup jamur yang tidak dapat dicerna oleh tubuh manusia biasa karena sup jamur tersebut merupakan makanan para dewa. kemudian Buddha melanjutkan perjalanan ke Kusinara. Setiba di dua pohon sala kembar, Buddha meminta Bhikkhu ananda mengabarkan kepada orang-orang bahwa Buddha akan parinibbana malam itu. Para dewa dan manusia berkumpul untuk menghormat kepada Buddha. Semua yang hadir merasa sangat sedih dan menangis karena Buddha akan pergi selamanya. Melihat hal itu Buddha menasehati para siswanya agar tidak terlalu bersedih karena kepergiaannya. Karena kematian akan datang kepada siapa saja.
Pesan terakhir Buddha adalah :
“Para Bhikkhu, sekarang saya nyatakan kepada kalian. Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur. Oleh karena itu, berjuanglah dengan tekun dan penuh kesadaran” Tepat pada usia 80 tahun dimalam hari dibulan waisak 543 Sm Buddha mencapai Parinibbana. Walaupun Sang Buddha telah parinibbana, namun Sang Buddha meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi kita, yaitu ajarannya, Dharma.
Sama halnya dengan keseluruhan cerita ini, ada beberapa hal yang patut kita teladani, seperti sifat Buddha yang penuh cinta kasih dan welas asih, semangat pantang menyerah untuk mencari obat bagi penderitaan, kerendahan hati untuk menerima saran dari siapa saja, dan semangat pelayanannya dalam menyebarkan Dharma selama 45 tahun. Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat Buddha.
Sadhu Sadhu Sadhu

Bagian 8 : Pemutaran Roda Dharma

Setelah Buddha mencapai penerangan sempurna, Buddha menyadari bahwa ajarannya, Dhamma yang telah ditemukanNya belum tentu dapat dimengerti karena sangatlah sulit dan mendalam. Mengetahui pikiran Buddha, Brahma Sahampati datang dan memohon pada Buddha untuk mengajarkan Dharma, karena walaupun banyak mahkluk sulit mengerti Dhamma, namun ada mahkluk-makhluk yang hanya memiliki sedikit kekotoran batin sehingga mereka dapat tercerahkan. Karena welas asih Buddha yang begitu besar pada semua mahkluk, Buddha memutuskan untuk mengajarkan Dhamma / kebenaran itu kepada semua mahkluk. Buddha kemudian berpikir siapakah yang pantas menerima Dhamma ini? Buddha ingin sekali memberikan kepada kedua gurunya Alara Kalama dan Udakha Ramaputra. Namun ternyata mereka berdua telah meninggal. Kemudian Buddha teringat akan kelima termannya semasa dia bertapa. Setelah mengetahui kalau kelima temannya berada di Taman Rusa Isipatana, Benares, Buddha melakukan perjalanan ke sana. Dari jauh ke lima pertapa telah melihat kedatangan Buddha. Mereka sepakat untuk tidak menghiraukan Buddha, karena mereka menganggap Buddha telah gagal. Namun ketika mereka melihat Buddha mendekat, secara spontan mereka menyambut kedatangan Buddha. Ada yang mempersiapkan tempat duduknya, ada yang menyediakan air untuk membasuh kaki. Ternyata Aura kebajikan dan kebijaksanaan dari Buddha telah mematahkan keragu-raguan kelima pertapa tersebut. Kemudian Buddha mulai membabarkan kebenaran yang telah Ia dapatkan. Kotbah pertama ini dikenal dengan nama DHAMMACAKKHA PAVATANA SUTTA ( Kotbah Pemutaran Roda Dhamma ).

Buddha mengajarkan Dharma kepada 5 pertapa itu tentang empat kesunyataan mulia, saat itu bulan purnama di BULAN ASADHA. Ke lima pertapa itu akhirnya mencapai tingkat kesucian dan mereka semua telah menjadi siswa Buddha yang pertama. Mereka memohon untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu dan sejak saat itu terbentuklah Sangha, yaitu perkumpulan para Bhikkhu, dan mereka berliman menjadi Bhikkhu pertama. Mereka adalah ASSAJI, MAHANAMA, KONDDANA, BHADIYA, VAPPA.

Bagian 7 : Mencapai Penerangan Sempurna

Enam tahun sudah Petapa Gotama menjalankan pertapaan yang keras dan tiba pada tahap kritis dimana ia berada di ambang kematian. Hingga suatu hari ia pingsan karena tubuhnya dilanda panas yang tak tertahankan dan karena kurang makan berhari-hari. Ketika itu, seorang anak laki-laki penggembala kebetulan lewat. Setelah membangunkan Pertapa Gotama, anak gembala itu menyuapkan air susu kambing baginya. Pertapa Gotama merenungkan bahwa ia telah pulih kembali dan merasa lebih segar setelah jatuh pingsan – berkat susu kambing yang diberikan oleh anak laki-laki gembala itu. Jika tidak demikian, pastilah ia sudah mati. Ketika merenung seperti itu, sekelompok penyanyi yang sedang berjalan menuju kota berlalu di dekat tempat ia bermeditasi. Para penyanyi itu menyanyikan syair : “ Jika senar gitar dikencangkan, suaranya semakin meninggi, jika semakin dikencangkan maka senarnya akan putus
“ Jika senar gitar dikendurkan, suaranya akan melemah, jika semakin dikendurkan makan suaranya akan hilang”

Oleh karena itu, untuk mendapatkan suara yang ideal, senar gitar itu harus disetel tidak terlalu kendur atau kencang” Setelah mendengar syair tersebut, pertapa Gotama menyadari bahwa jika dirinya terus menerus melakukan cara pertapaan ini maka Ia tidak akan mancapai tujuannya. Sehingga Ia memutuskan untuk mengakhiri cara pertapaannya yang salah Tidak jauh dari tempat itu, tinggallah seorang wanita bernama Sujata. Sujata ingin memberi persembahan kepada dewa pohon karena permohonannya untuk memiliki anak laki-laki terkabul. Ternyata pohon tempat ia memberikan persembahan adalah pohon tempat Pertapa Gotama bermeditasi, sehingga Sujata mengira bahwa Pertapa Gotama adalah dewa pohon. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama. Berkat makanan yang dipersembahkan ini, tubuh Pertapa Gotama menjadi pulih kembali dan ia dapat melanjutkan kembali usahanya untuk menemukan obat yang dapat menolong seluruh makhluk.  Lain halnya dengan kelima pertapa, ketika melihat Pertapa Gotama mulai makan lagi, mereka menganggap bahwa Pertapa Gotama telah gagal dalam usahanya untuk mencari kebahagiaan sejati. Oleh sebab itu, mereka pun meninggalkan Pertapa Gotama seorang diri. Sejak saat itu Pertapa Gotama bertekad tetap akan makan tidak lewat tengah hari untuk membantu tubuhnya agar tubuhnya tetap bisa bertahan sehingga ia akan mencapai apa yang menjadi tujuannya. Hingga suatu ketika, pada malam hari sewaktu bulan purnama di bulan Waisaka, setelah mengalahkan Mara, di bawah Pohon Bodhi Pertapa Gotama mencapai BODHI/Pencerahan dan Beliau dikenal sebagai BUDDHA GAUTAMA / BUDDHA SAKYAMUNI.

Bagian 6 : Meninggalkan Istana

Di istana, Raja Suddhodana sedang mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kelahiran cucunya. Pangeran Siddharta, yang baru saja kembali tampak lebih bahagia. Pikirannya dipenuhi dengan keinginan untuk membebaskan semua makhluk dan usia tua, penyakit, dan kematian. Sekitar tengah malam, Pangeran Siddharta terbangun. Setelah membayangkan bahwa keluarga yang dicintainya akan mengalami penderitaan usia tua, sakit dan kematian, tekadnya semakin kuat. Inilah waktunya untuk menemukan obat yang dapat menolong semua makhluk dari usia tua, penyakit dan kematian. Ia lalu meninggalkan kamar perlahan-lahan dan meminta Channa untuk mempersiapkan Kanthaka, kudanya. Dengan hati penuh cinta, pangeran memandangi istri dan anaknya untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi. Malam itu Pangeran Siddharta meninggalkan istana dengan menunggangi kudanya, disertai dengan Channa.

Hari telah pagi. Pangeran Siddharta turun dari punggung Kanthaka. Ia telah tiba di tepi Sungai Anoma. Ia meminta Channa untuk pulang kembali ke Kapilavatthu bersama dengan Kanthaka dan meninggalkannya seorang diri. Channa memohon untuk mengikutinya menjadi pertapa, tapi Pangeran Siddharta melarangnya. Pangeran Siddharta menyerahkan tanda kebesarannya, memotong rambutnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pertapa dan menjadi Pertapa Gotama. Dalam perjalanan pulang, Kanthaka sangat bersedih karena harus berpisah dengan Pangeran Siddharta, akhirnya ia meninggal di perjalanan. Sementara itu, Pertapa Gotama melanjutkan perjalanannya menemui seorang guru yang bernama Alara Kalama. Dalam waktu singkat ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh gurunya. Namun ia merasa bahwa obat yang dicarinya belum juga ditemukan. Oleh karena itu Ia mohon pamit kepada gurunya untuk melanjutkan perjalanannya mencari obat yang dapat mengatasi usia tua, penyakit dan kematian.

Dalam perjalanan, Ia menemukan tempat pertapaan lain yang dipimpin oleh Uddaka Ramaputta. Ia pun menjadi siswa dari guru tersebut. Dalam waktu yang singkat juga, ia mampu menguasai ilmu yang diajarkan oleh gurunya. Karena tidak puas dengan pencapaiannya itu. Ia meninggalkan pertapaan itu mencari guru lainnya.
Saat melewati Hutan Uruvela Pertapa Gotama bertemu dengan 5 orang pertapa yaitu Kondanna, Vappa, Mahanama, Assaji dan Bhaddiya. Selama berlatih di Hutan Uruvela, Pertapa Gotama menjalani latihan dengan menyiksa diri. Ia berlatih mengurangi makan sedikit demi sedikit hingga tidak makan sama sekali. Karena melakukan hal tersebut, tubuhnya berangsur-angsur menjadi semakin kurus dan akhirnya hanya tinggal tulang belulang.

Bagian 5 : Empat Peristiwa

Walaupun Pangeran Siddharta hidup dalam kemewahan, ia tidak merasa bahagia. Ia ingin melihat keadaan di luar istana. Pada suatu hari Pangeran Siddharta menemui ayahnya dan berkata : “Ayah, ijinkanlah aku berjalan-jalan ke luar istana untuk melihat bagaimana kehidupan rakyatku.” “Baik, anakku, engkau boleh keluar dari istana untuk melihat bagaimana penduduk hidup di kota. Tetapi sebelumnya aku akan membuat persiapan agar rakyat menyambutmu.” Setelah kota selesai dihias, dan raja memastikan tidak ada orang tua, sakit, mati dan pertapa, barulah raja mengijinkannya pergi.
Sewaktu Pangeran sedang berjalan-jalan di kota, tiba-tiba seorang yang sudah tua keluar dari sebuah gubuk kecil. Rambut orang itu panjang dan sudah putih semua, kulitnya kering dan keriput, matanya sudah hampir buta, pakaiannya compang-camping dan kotor sekali. Giginya sudah ompong, badannya kurus kering dan ia berjalan dengan terbungkuk-bungkuk dengan bantuan tongkat. Melihat orang tua itu, Pangeran sangat terkejut karena hal seperti ini baru pertama kali dilihatnya. “Apakah itu, Channa? Mengapa ia bungkuk sekali? Mengapa rambutnya putih dan bukan hitam seperti rambutku? Apa yang terjadi dengan giginya? Apakah ada orang yang terlahir seperti itu? Channa menjelaskan kepada Pangeran bahwa itulah keadaan seseorang yang sudah tua dan semua orang akan menjadi tua. Pangeran memerintahkan untuk segera kembali ke istana karena apa yang baru saja ia lihat telah membuatnya sedih sekali. “Mengapa semua orang harus menjadi tua dan tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya, meskipun ia kaya atau berkuasa?” Untuk menghibur pangeran yang sedang bersedih, malam itu diselenggarakan sebuah pesta besar. Tetapi Pangeran tidak merasa gembira Ia sedang sibuk memikirkan apa yang sudah dilihatnya. Mengetahui hal ini Raja menjadi sedih sekali dan ia merasa khawatir bahwa hal ini dapat menyebabkan Pangeran meninggalkan istana. Karena itu, Raja memerintahkan kepada dayang-dayangnya untuk lebih sering mengadakan pesta-pesta makan dan tari-tarian.
Beberapa hari kemudian, Pangeran kembali memohon kepada Raja agar diijinkan lagi melihat-lihat kota, tetapi sekarang tanpa terlebih dahulu memberitahukannya kepada para penduduk. Dengan berat hati Raja memberikan ijinnya. Raja tahu, tidak ada gunanya melarang karena akan menambah kesedihan pangeran. Pada kesempatan ini, Pangeran pergi bersama Channa dan menyamar sebagai bangsawan. Hari itu Pangeran melihat kegiatan sehari-hari penduduk sampai tiba-tiba ada orang yang sedang kesakitan dan berguling di tanah sambil memegang perutnya. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Pangeran melihat sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Pengeran langsung menghampiri orang itu dan menanyakan apa yang terjadi. Namun orang itu tidak menjawab dan menangis kesakitan. Pangeran bertanya kepada Channa “Channa, apa yang terjadi kepadanya?” “Tuanku jangan menyentuhnya. Orang itu sedang sakit, nanti tuanku tertular. “ “Apakah tidak ada orang yang dapat menolongnya? Apakah semua orang dapat diserang penyakit? “Betul, Tuanku, semua orang dapat terserang penyakit. Mendengar ini, Pangeran menjadi semakin sedih. Untuk ketiga kalinya Pangeran kembali mohon kepada Raja agar diijinkan kembali melihat-lihat kota Kapilavatthu. Raja pun menyetujuinya. Ketika sedang berjalan-jalan, mereka bertemu dengan serombongan orang yang sedang menangis. Di depan mereka ada 4 orang yang memikul sebuah tandu. Di atas tandu itu berbaring seorang yang sudah kurus sekali dalam keadaan tidak bergerak. Tandu itu dibawa ke tepi sebuah sungai, diletakkan di atas tumpukan kayu, kemudian dibakar. Melihat hal itu, pangeran bertanya “Channa, apakah itu? Mengapa orang itu berbaring di sana dan membiarkan orang lain membakar dirinya?” “Dia tidak tahu apa-apa lagi, Tuanku. Orang itu sudah mati.” “Mati! Channa, apakah ini yang dinamakan mati? Dan apakah semua orang pada suatu waktu akan mati?” “Betul, Tuanku, semua makhluk hidup pasti akan mati.” Pangeran heran dan kaget sekali, sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Apakah benar tidak ada jalan untuk menghentikannya? “Semua orang di dunia ini pada suatu waktu harus mati, belum ada orang yang tahu bagaimana cara untuk menghentikannya. Aku harus mencarinya dan menolong dunia ini.”

Sewaktu Pangeran mengunjungi Kapilavatthu untuk keempat kalinya, saat sedang beristirahat, Pangeran melihat seorang pertapa berjubah kuning. Pangeran merasa pertapa itu berbeda dengan orang-orang yang selama ini ditemuinya. Pangeran mendekatinya dan bertanya apa yang sedang dilakukan pertapa itu. Pertapa itu menjawab, “Pangeran yang mulia, aku ini seorang pertapa. Aku menjauhkan diri dari keduniawian, meninggalkan keluarga untuk mencari obat agar orang tidak menjadi tua, sakit, dan mati. “ Pangeran terkejut karena ternyata pertapa ini mempunyai pikiran dan cita-cita yang sama dengan dirinya. Ia merasa gembira sekali dan berkata di dalam hati, “Aku juga harus menjadi pertapa seperti itu!” Tidak lama kemudian, datanglah dayang-dayang yang khusus mencari Pangeran untuk memberitahukan bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi ini diberi nama Rahula, yang berarti belenggu.

Bagian 4 : Masa Remaja Pangeran Siddharta

Raja Suddhodana selalu merasa khawatir atas ramalan dari para brahmin saat kelahiran pangeran Siddharta yang menyatakan bahwa pangeran akan meninggalkan kerajaan dan menjadi Buddha. Oleh sebab itu, ia berusaha membuat pangeran senantiasa merasa nyaman dan bahagia. Semua yang terbaik diberikannya kepada putranya itu. Termasuk membangun tiga istana untuk ditempati pangeran pada setiap musimnya, yaitu musin dingin, musim panas dan musim hujan. Namun semakin bertambahnya usia sifat pangeran Siddharta yang suka merenung dan sifat welas asihnya tampak semakin jelas. Raja merasa khawatir. Ia lalu memanggil para penasehat dan bertanya apakah ada cara lain untuk memastikan agar sang pangeran tidak menjadi Buddha. Para penasehat menyarankan “Paduka, mengingat putra paduka sekarang telah berumur enam belas tahun, cara terbaik untuk mencegah agar pangeran tidak meninggalkan tahta adalah dengan mencari gadis tercantik dan menikahkan pangeran dengannya”. Raja Suddhodana menyetujui usulan tersebut. Raja Suddhodana mengirimkan undangan kepada para orang tua yang mempunyai anak-anak gadis, meminta mereka untuk memperkenankan putri-putri mereka untuk datang ke istana, supaya sang pangeran dapat memilih seorang sebagai calon istri. Namun para orang tua mengabaikan undangan tersebut. Mereka berkata, sang pangeran tidak tahu ilmu perang, tidak mengerti nilai kesenian, bagaimana dia akan menjaga dan melindungi istrinya?

Mendengar hal itu, pangeran mohon kepada ayahnya supaya diselenggarakan sayembara mengenai keterampilan berbagai ilmu perang. Para lelaki seisi kerajaan, bahkan dari luar negara Sakya pun diperbolehkan datang untuk mengikuti perlombaan. Pangeran sendiri juga akan turun ke arena pertandingan itu. Pertandingan yang diadakan antara lain ketrampilan mengendalikan kuda, bermain pedang, dan memanah. Hasilnya, pangeran Siddharta memenangkan seluruh pertandingan itu. Dengan kepiawaian dalam seni perang seperti itu pangeran Siddharta membuktikan bahwa ia layak berada dalam kasta ksatria dan ia lebih unggul dari para peserta lainnya. Para ayah dari putri-putri sangat puas dan tidak lagi merasa ragu terhadap sang pangeran. Sesudah perlombaan selesai, diadakan pesta besar di mana hadir kurang lebih empat puluh ribu gadis cantik. Pilihan Pangeran Siddhartha jatuh pada sepupunya sendiri, adik dari Devadatta yaitu Yasodhara. Setelah pernikahan itu, Raja Suddhodana merasa agak tenang. Namun untuk berjaga-jaga terhadap ramalan para brahmin, Raja Suddhodana mengatur agar pangeran harus selalu dikerumuni oleh semua keindahan, kemewahan, makanan enak, dan kenyamanan, dan mengusahakan agar pangeran tidak melihat empat peristiwa yaitu : orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Raja berharap pangeran Siddharta akan meneruskan tahta kerajaan.

Bagian 3 : Menyelamatkan Angsa

Pengeran Siddharta tumbuh menjadi anak yang sangat baik hati, tidak hanya pada manusia, namun juga pada hewan. Sifat kasih yang sayang sangat besar tampak jelas pada cerita berikut ini :

Pada suatu ketika pangeran sedang bermain dengan sahabatnya di hutan, di antaranya adalah pangeran Devadatta, yaitu sepupu pangeran Siddharta. Ketika pangeran Siddharta sedang beristirahat di bawah pohon, tiba-tiba ia melihat seekor angsa jatuh dari angkasa. Ia tahu bahwa Pangeran Devadatta telah memanah angsa tersebut. Dengan segera Pangeran Siddhattha menolong si angsa. Pangeran Devadatta juga mengejar angsa itu, namun Pangeran Siddhattha berhasil terlebih dulu menyelamatkan angsa itu dan dengan lembut Ia menarik anak panah itu keluar dari sayapnya, lalu memetik beberapa tanaman obat dan meneteskan getahnya pada luka si angsa. Ia juga mengelus angsa tersebut dengan lembut dan menenangkannya. Angsa itu didekap di dadanya supaya merasa hangat dan nyaman.  Pangeran Devadatta yang baru saja tiba menuntut agar angsa itu diserahkan kepadanya, namun Pangeran Siddharta menolaknya. Dengan marah Devadatta maju dan mencoba merebut angsa itu sambil berteriak “Angsa itu milikku, akulah yang memanahnya. Kembalikan ia padaku!”. Namun pangeran Siddharta menjauh dan menjawawb “Tak akan kuberikan kepadamu. Tidak akan pernah. Kalau angsa ini mati karena kamu panah tadi barulah ia menjadi milikmu. Namun dia hanya terluka dan masih hidup. Aku telah menyelamatkan hidupnya. Karena itu angsa ini menjadi milikku” Akhirnya terjadilah perselisihan dan saling debat. Pangeran Devadatta berpendapat bahwa angsa itu adalah miliknya karena ia yang memanahnya. Sedangkan Pangeran Siddharta mengatakan bahwa Ia yang berhak atas angsa itu karena Ia telah menyelamatkan hidupnya. Akhirnya Pangeran Siddharta mengusulkan agar permasalahan ini dibawa ke pengadilan para bijak untuk memperoleh jawaban atas siapa yang berhak atas angsa tersebut.

Setelah diajukan ke pengadilan para bijak, akhirnya salah satu dari para bijak tersebut berseru, “Semua makhluk patut menjadi milik mereka yang menyelamatkan atau menjaga hidup. Kehidupan tak pantas dimiliki oleh orang yang berusaha menghancurkannya. Angsa yang terluka ini masih hidup dan diselamatkan oleh Pangeran Siddharta. Karenanya, angsa ini mesti dimiliki oleh penyelamatnya, yaitu Pangeran Siddharta!” Selain cerita di atas, masih banyak kebaikan hati yang dimiliki oleh pangeran Siddharta. Namun ternyata kebaikan hati yang dimilikinya membuat Raja Suddhodana menjadi cemas. Ingin tahu kelanjutannya, mari kita dengarkan cerita berikutnya.

Bagian 2 : Upacara Pemberian Nama

Raja Suddhodana mempunyai guru yang dikenal dengan nama petapa Asita. Ketika petapa Asita mendengar bahwa putra mahkota telah lahir, maka petapa asita pun pergi ke istana mengunjungi raja Suddhodana.Sesampainya di istana, Raja Suddhodana merasa sangat bahagia karena gurunya datang berkunjung. Raja lalu membawa putra mahkota kepada petapa Asita, agar bayi tersebut dapat memberikan hormat kepada guru kerajaan, tetapi…. Kaki bayi tesebut malah bertumpu di kepala petapa Asita. Karena merasa heran dan menyadari kekuatan dari Boddisatta, maka petapa Asita segera memberikan hormat kepada bayi tersebut. Raja Suddhodana pun ikut memberikan hormat. Inilah penghormatan Raja yang pertama kalinya.
Petapa Asita lalu memeriksa tubuh pangeran dan menemukan pada tubuh pangeran ada tanda-tanda dari mahkluk agung. Mengetahui hal ini, petapa Asita tertawa sangat bahagia, lalu setelah itu ia menangis tersedu-sedu. Melihat hal tersebut, Raja merasa sangat heran dan ia bertanya kepada gurunya apakah ada hal buruk yang akan menimpa bayi tersebut? Petapa Asita menjawab “ Oooo.. tidak, tidak ada hal buruk yang akan menimpa putra mahkota. Sya tertawa karena merasa sungguh beruntung dapat bertemu dengan-Nya. Sesungguhnya kelak, ia akan menjadi Buddha. Saya menangis karena tidak akan cukup waktu bagi saya untuk meyaksikan tercapainya pencerahan-Nya. Ini adalah kerugian besar bagi saya”

Setelah kelahiran putra mahkota, Raja dan ratu sangat gembira, hingga suatu ketika Raja mengadakan upacara pemberian nama. Raja mengundang 180 orang brahmin untuk hadir dalam upacara tesebut. Para brahmin tersebut setelah melihat bayi tersebut menyampaikan kepada raja bahwa ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada bayi tersebut. Jika ia memilih kehidupan berumah tangga, maka ia akan menjadi Raja Adidunia, dan jika ia meniggalkan kehidupan duniawi dan menjadi petapa maka ia kan menjadi Buddha. Para brahman tersebut juga menyampaikan bahwa pangeran akan meninggalkan keduniawian dan menjadi petapa setelah melihat 4 peristiwa, yaitu orang tua, orang sakit, orang meninggal dan petapa.
Pangeran kecil akhirnya di beri nama “Siddhartha” yang berarti “ yang akan terpenuhi pengharapannya”. Pangeran kecil diberi nama tersebut karena para brahmin telah meramalkan bahwa pangeran kecil ini kelak akan mencapai Kebuddhaan. Sehingga pangeran kecil ini dikenal dengan nama “ Siddharta Gautama”

Bagian 1 : Kelahiran Pangeran Siddharta

Dalam memperingati hari Tri Suci Waisak ke 2554 BE tahun 2010, Gelanggang Anak-anak Buddhis Indonesia mengadakan lomba-lomba. Bagi siswa kelas 5 ke atas diwajibkan untuk mengikuti lomba Duta Dharma. Mengingat sebelumnya anak-anak belum pernah mengikuti lomba ini, maka selama 3 minggu berturut-turut materi sekolah minggu berisi bagaimana bercerita di depan umum beserta latihan-latihan singkat untuk setiap anak. Semua cerita yang akan mereka bawakan telah disiapkan sebelumnya oleh kakak pembina, yang diambil dari riwayat hidup Buddha. Cerita yang akan mereka bawakan berawal dari sebelum Pangeran Siddharta terlahir hingga Sang Buddha mencapai parinibbana. Inilah naskah cerita yang pertama :

Halo teman-teman se-dharma, SELAMAT PAGI SEMUANYA….
Sebelumnya terimalah salam Buddhis dari saya Namo Sanghyang Adi Buddhaya, Namo Buddhaya…Eeemmm…., teman-teman tau gak dalam waktu dekat ini kita mau ngerayain apa??? YUP betul, dalam bulan ini kita akan merayakan hari Waisak. Hari waisak itu apa sich..Hari waisak itu memperingati 3 peristiwa penting. Teman-teman pasti sudah tau semuanya khan? Ya, 3 peristiwa itu adalah lahirnya pangeran Siddharta, petapa Gautama mencapai penerangan sempurna dan Buddha mahaparinibbana. Setelah ini, saya akan menceritakan kisah hidup dari Buddha Gautama secara singkat. Mari kita simak ceritanya Yukkk..

Pada jaman dahulu kala di sebuah kerajaan Sakya hiduplah seorang raja yang bernama Raja Suddhodana dan istrinya yang bernama Ratu Mahamaya. Raja dan ratu sudah lama sekali menikah, tetapi mereka belum juga di karuniai seorang anak. Hingga pada suatu malam purnama, Ratu mahamaya bermimpi yang sangat aneh. Ratu bermimpi bahwa ada seekor gajah putih yang membawa sekuntum teratai dengan belalainya yang berkilau mengelilingi ratu mahamaya sebanyak 3 kali searah dengan jarum jam dan masuk kedalam perutnya melalui sisi kanan tubuhnya.
Karena merasa heran dengan mimpinya maka, ratu pun menceritakan hal tersebut kepada raja. Raja pun segera memanggil para brahmana untuk mengartikan mimpi tersebut. Para brahmana mengartikan mimpi tersebut bahwa akan lahir seorang anak laki-laki, dan jika dia meninggalkan kehidupan berumah tangga, maka ia akan menjadi Buddha. Akhirnya tak lama kemudian, Ratu mahamaya mengandung.

Pada jaman dahulu,jika seorang wanita akan melahirkan maka ia akan pulang ke rumah orangtuanya.Ketika usia kehamilannya sudah mencapai sepuluh bulan, maka ratu mahamaya pun pulang kerumah orangtuanya dengan diiringi oleh para dayang istana. Pada saat perjalanan ke rumah orang tuanya di Devadaha, ratu mahamaya melewati sebuah taman yang sangat indah sehingga Ratu Mahamaya ingin beristirahat ditaman tersebut.Pada saat beristirahat, tiba-tiba ratu Mahamaya merasakan sakit karena akan melahirkan, dan pada saat itulah putra mahkota lahir.Kejadian itu terjadi pada hari bulan purnama bulan Vesakha, tahun 623 SM

Setelah lahir bayi tersebut langsung berjalan 7 langkah dan di setiap langkahnya akan muncul sekuntum bunga teratai. Setelah berjalan 7 langkah tangan kanan bayi tersebut menunjuk langit dan tangan kirinya menunjuk bumi lalu berkata:

“Akulah yang terluhur di dunia ini!

Akulah yang teragung di dunia ini!

Akulah yang termulia di dunia ini!

Inilah kelahiran-Ku yang terakhir!

Tak akan ada lagi kelahiran kembali bagi-Ku!”

Ratu pun segera pulang ke istana untuk memberitahukan berita bahagia ini kepada Raja. Raja dan ratu sangat senang dengan kelahiran putra mahkota, bayi yang sangat dinanti-nantikan oleh mereka.

CERITA IBU DAN BERAS
(agar materi lebih menarik dapat dibuat drama, panggung boneka, dll)

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.
Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.
Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.
pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.
Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya”

Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi. Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”.

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi.”
Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah. Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: “Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu.” Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: “Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini.”

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras. Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.
Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : “Inilah sang ibu dalam cerita tadi.” Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar. Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: “Oh Mamaku…… ……… …

Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: “Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan” Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: ” Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya”.

HARI IBU
Tujuan:
– Anak mengingat kebajikan orang tua terutama ibu.

- Mengetahui kewajiban anak terhadap orang tua seperti menghormati orang tua, menyayangi, mengurangi beban orang tua (membantu orang tua), membuat orang tua bahagia.

Cerita:
KEBAJIKAN ORANG TUA

Pada suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur, yang sedang menyiapkan makan malam, dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai ditulisinya. Setelah ibunya mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya dan inilah tulisan si anak:

= Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7 500,00

= Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5 000,00

= Untuk pergi ke toko menggantikan nama Rp. 10 000,00

= Untuk menjaga adik waktu mama belanja Rp. 15 000,00

= Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5 000,00

= Untuk rapor yang bagus Rp. 25 000,00

= Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12 500,00

————————————————————————-
Jumlah utang Rp. 80.000,00

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. Kemudian ia mengambil bolpen, membalikkan kertasnya, dan menulis:

1.  Untuk sembilan bulan ketika mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut mama, Gratis.

2. Untuk semua malam ketika mama menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis.

3. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini,  Gratis.

4.  Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis.

5. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis,

Anakku. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati mama adalah GRATIS.nSetelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata: ‘Ma, aku sayang sekali pada Mama’. Dan kemudian ia mengambil bolpen dan menulis dengan huruf besar-besar: “LUNAS”.

Seember Susu

Dua ekor katak berlompatan dengan riangnya di sebuah halaman rerumputan sebuah peternakan sapi. Seorang ibu yang sedang membersihkan halaman kandang yang melihat kedua katak itu berusaha mengusir dengan sebuah gagang sapu dan membuat kedua katak itu lari ketakutan.

“Cepat, kearah sana”, kata salah seekor katak itu “Saya melihat tempat persembunyian yang baik dan pasti sulit dijangkau oleh gagang sapu itu” kata si katak menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam peternakan tsb.
“Ayo, cepat” seru si katak pertama dan keduanya melompat-lompat melompat tinggi, lebih tinggi, semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan bersembunyi. “Plung” pada lompatan terakhir, keduanya serentak mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali melompat, tapi tidak berhasil. “Oh kawan, habislah kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita akan mati tenggelam disini” kata katak kedua.
“Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah mendayung” kata katak pertama, pasti ada cara untuk bisa keluar dari tempat ini, ayo kita pikirkan, jangan menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha melewati bibir ember. Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai mengeluh lagi: “Ugh, saya sungguh lelah sekali, saya benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali dan dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini.”  “Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah” kata katak pertama memberi semangat. “Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini keluhnya makin lemah” dan gerakan katak kedua itu makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak lagi, mati. Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mengayunkan tangan dan kakinya sambil sesekali tetap membuat lompatan terus mencoba melewati ember yang mengurungnya.

Saat malam menjelang pagi udara terasa sangat dingin, lamat-lamat terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari kaki-kaki katak kedua itu serasa mendapat pijakan. Katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya terasa berdiri diatas setumpuk mentega hasil karyanya semalaman. Dan “Plop” katak itupun membuat lompatan terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang mengubur temannya.

Paku

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang mempunyai sifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan pemarahnya, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk menancapkan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah menancapkan 48 buah paku ke pagar… Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada menancapkan paku ke pagar rumah. Akhirnya tibalah waktu dimana anak itu merasa bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari-hari berlalu, dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang dipagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.” Sang ayah terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan kata-katanya, “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahanmu, kata-katamu telah meninggalkan bekas seperti lubang ini…di hati orang lain.” “Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu… Tetapi tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka tusukan itu akan tetap selalu ada…dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka pada fisik kita…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: